Pelatihan Kepanduan untuk Guru Sekolah Islam Terpadu Se-Indonesia

Salah satu dari kesibukan saya adalah sebagai Pelatih Pembina Pramuka. Ya, Pramuka. Kayanya 'gak perlu dikenalkan lebih jauh lagi tentang 'makanan' apa sih Pramuka itu,hehe... Karena meski tidak semuanya pernah bergabung didalamnya, tapi hampir pasti semuanya tau tentang Pramuka. Meski sedikit banyaknya pasti relatif.

Saya sederhanakan penjelasannya ya... Pramuka itu Peserta didiknya terdiri dari 4 golongan usia yakni 7-10 tahun yang disebut dengan SIAGA, usia 11-15 tahun yang disebut PENGGALANG, usia 16-20 tahun biasa disebut PENEGAK dan PANDEGA untuk usia 21-25 tahun.
Nah, mereka ini dibina oleh orang dewasa yang kita sebut dengan istilah PEMBINA. Sedangkan legalnya untuk bisa mendapatkan predikat PEMBINA harus menempun sebuah fase yang disebut KURSUS PEMBINA PRAMUKA MAHIR TINGKAT DASAR (KMD) dan LANJUTAN (KML). 

Institusi yang menyelenggarakan disebut dengan PUSDIKLAT singkatan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan yang ada di tingkat Kota/Kabupatan (Cabang), Provinsi (daerah) dan Nasional. Sedangkan orang yang melatih para calon Pembina di Kegiatan Kursus tersebut disebut PELATIH. Hmmmm..... rumit ya ?. Hehehe, itulah saya, PELATIH PEMBINA PRAMUKA.

Saya aktif membantu di PUSDIKLAT Nasional. Dan saya tertarik ingin bercerita tentang salah satu Kursus yang kemarin saya tergabung didalamnya belum lama ini (minggu lalu).

Tersebutlah, Jaringan Sekolah Islam Terpadu Seluruh Indonesia. Organisasi yang menghimpun Sekolah Sekolah dengan label 'Islam Terpadu' (IT) dari sabang sampai merauke. JSIT mempunya Grand Design bahwa Kegiatan Life Skill atau Pembentukan Karakter diselenggarakan salahsatunya lewat Kegiatan Kepramukaan. Dan untuk meningkatkan kualitas para Pembina Pramuka di lingkungan Sekolah Islam Terpadu, Koordinator Nasional Pramuka Sekolah Islam Terpadu bekerjasama dengan Pusdiklatnas Pramuka menyelenggarakan Kursus Pembina Pramuka Mahir TIngkat Dasar (KMD) dan Lanjutan (KML) untuk yang
 sudah pernah mengikuti KMD.

Kegiatan berlangsung di Areal Pusdiklatnas 
Cibubur pada tanggal 14 Februari dan ditutup tanggal 20 Februari 2011. Diikuti oleh Guru-guru yang mendapat tugas tambahan sebagai Pembina Pramuka di Sekolah Islam Terpadu dari seluruh Pelosok nusantara.

Saya tergabung menjadi salah satu dari Tim Pelatih. Sudah banyak kursus yang saya ditugasi didalamnya, tapi saya harus mengakui Kursus kali ini sangat berbeda. Ada keunikan tersendiri yang menjadi atmosfirnya. Mungkin karena latar belakang peserta yang semuanya adalah para Guru guru Sekolah Islam.

Keunikan tersebut saya coba ringkas menjadi beberapa butir sebagai berikut :
  • Kegiatan awal pastilah dinamika kelompok, saya telat datang karena salah informasi, dari kejauhan saya perhatikan aura wajah yang berbeda. Ya, wajah wajah khas yang sering terbasuh air wudhu. Peserta Putri berseragam Pramuka rapih dengan Jilbab lebar dan semuanya memakai rok. Anggun namun tetap dinamis.
  • Kelompok Belajar, pastilah harus terpisah. Beda dengan beberapa kursus yang meminta kelompok belajar harus multigender supaya ada suasana berbeda katanya.
  • DI sesi giliran saya. Setelah saya mempersiapkan bahan materi yang akan disajikan, saya langsung beranjak menuju ruang kelas. Terlihat dari luar peserta sudah berkumpul didalam, mungkin karena awal jadi semua masih semangat dan disiplin. Dan SUBHANALLAH, hampir semua peserta tidak ikhlas waktunya terbuang percuma untuk menunggu pemateri. Mereka sibuk bertilawah, membaca buku ataupun berbincang. Tidak terlihat suasana hiruk pikuk, atau riuh rendah tawa yang munkin kurang bermanfaat. Unik. Atmosfer kesholehan mulai terasa.
  • Ketika menyepakati tata tertib. Hmm, ini sih sudah pasti. Kegiatan harus memperhatikan waktu adzan. Karena Adzan materi harus berhenti dan semua peserta bergegas ke Masjid. 
  • Panitia dibuat sibuk dengan permintaan para peserta putri, untuk membuat privasi kamarnya lebih 'aman'. Saya rasa ini merupakan sikap yang perlu dihargai untuk sebuah prinsip yang dipegang seorang muslimah yang menjaga hijabnya. Siap Laksanakan !
  • Awalnya cukup 'gregetan' karena peserta yang aktif dalam kelas orangnya itu ituuu aja, gak ganti ganti. Tapi terlihat di hari keempat, mulai bermunculan wajah wajah baru yang sudah mulai berani tampil. Hmm, mungkin ini keunikan lain ya, karena semuanya rendah hati alias tawadhu', jadi awalnya pada malu-malu.. tapi kelihatan kok di hari hari terakhir sudah mulai malu-maluin, hehehe... (kidding..^^)
  • Kursus yang sehat. Karena 100% Pesertanya tidak ada yang merokok, pelatih yang punya kebiasaan merokok pun jadi malu. Saya perhatikan teman teman pelatih yang biasa merokok, harus 'ngumpet-ngumpet' kalo mau merokok. 
  • Setiap waktu sholat shubuh, apa lagi sholat sholat lain, Masjid Pusdik mesti ramai. Berbeda sekali dengan suasana kursus kebanyakan yang lebih memilih sholat di kamar karena merasa jarak antara kamar dengan masjid cukup jauh. Alhamdulillah banyak pelatih yang jadi ikut ketularan, Sholat Berjama'ah di Masjid.
  • Kegiatan Outdoor, penjelajahan dari Pusdik dan melintas menuju Bumi Perkemahan Cibubur. Panas menyengat. Namun tidak terlihat surut semangat para peserta, meski lelah sudah mendera. Tengah hari sempat beristirahat di Masjid Buper Cibubur. Beberapa peserta beranggapan di Masjid adalah Pos Terakhir, tapi rupanya ada tantangan lain yang harus dilewati yakni menyeberangi Danau Situbaru yang luas. Adrenalin terpacu. Namun seluruh peserta berhasil melewatinya. TIdak ada satupun yang gagal. Cerminan sikap pejuang yang luar biasa. Karena pengalaman kami pastinya akan ada 2-3 orang (terutama putri) yang tidak berani atau gagak menyebarangi danau. Salut !
  • Waktu sesi Flying Fox, tidak seru menurut saya. Karena semua peserta putri tidak ada yang ketakutan. (makan gaji buta nih motivator outdoor...hehe..)
  • Oh iya, di Kursus kali ini kita kedatangan tamu Pramuka Luar Negeri dari Slovenia. Mereka melebur di beberapa sesi. Dan peserta Kursus ini pun berhasil membuat mereka 'nyaman'. Meski peserta kursus putri semuanya berjilbab, tapi tidak membuat kesan eksklusif, justru Pramuka Putri dari Slovenia terlihat sangat senang bisa mengikuti kegiatan bersama regu peserta.
  • Api unggun, malam terakhir. Semua regu menampilkan kebolehan seni. Tidak ada yang 'neko neko', tapi bisa menghibur. Suasana begitu terlihat emosional di akhir akhir, terlebih ketika mereka menyanyikan lagu lagu islami (nasyid) yang sendu. Mengingat esok mereka akan kembali ketempatnya masing masing.
  • Upacara penutupan. Jabat tangan erat, berpelukan. Berpamitan. Bermaaf-maafan, Airmata tertumpah. Semoga kita bisa dipertemukan kembali.
Tetaplah semangat menularkan energi kesholehan kakak-kakakku, da'wah lewat kepramukaan adalah quote yang saya suka. Bergabungnya kakak-kakak akan membuat warna bertambah, menjadi lukisan pelangi yang lebih indah. Harmonisasi nada-nada pembinaan generasi muda lewat kepramukaan semakin merdu dan syahdu.

...............
udahan dulu ya... istri protes..minta gantian mau nulis juga

Komentar

Posting Komentar