Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya

Belakangan ini pemerintah menaruh perhatian penuh terhadap Pendidikan Karakter. Mungkin mereka mulai tersadar bahwa penyakit akut yang sedang dihadapi bangsa ini adalah masalah karakter. Ada yang salah dari kebanyakan pola tingkah laku orang-orang yang katanya berasal dari bangsa yang murah senyum. Moralitas seperti terlibas, Etika hanya sebatas rektorika dan Norma cuman sebatas pelajaran sekolah.

Memang saat ini Kurikulum Pendidikan di negara kita tidak ada mata pelajaran pendidikan karakter, bahkan lebih parah lagi pendidikan saat ini hanya berorientasi pada angka-angka. Dan yang menjadi bencana nasional sekarang adalah para praktisi pendidikan banyak yang melakukan kejahatan berencana dengan alasan membantu anak bangsa. Tentunya kita semua sudah tahu tentang kasus-kasus kecurangan yang dilakukan secara sistematis demi target kelulusan Ujian Nasional.

Bicara lebih jauh tentang Karakter Bangsa kita, saya teringat kata-kata Aa Gym, kurang lebih begini ... : "...kalo mau melihat potret sikap bangsa kita lihat saja tingkah laku mereka di jalan raya..". kata beliau. "...mulai dari pengendara yang tidak mau mengalah, menerobos lampu merah, menyogok ketika ditilang, dan seterusnya.." sambungnya.

Nampaknya potret jalan raya yang dicontohkan Aa Gym memang cukup mewakili gambaran karakter sebagian besar bangsa kita. Belum terlalu lama, saya dan istri mempunyai pengalaman yang unik. Kejadiannya ya di Jalan Raya.
Motor kami berhenti karena lampu merah tepat di barisan depan di salah satu perepatan jalan raya. Beberapa motor nampaknya tidak sabar jadi mereka berusaha untuk menyelip dan berada di depan kami, tepat melewati batas yang ada. Lampu merah sekarang 'kan didampingi oleh lampu hitungan mundur.
Saat hitungan baru sampai hitungan kedua puluh, semua sudah mengambil ancang-ancang, dan perlahan-lahan terus maju. Sesenti demi sesenti sambil terus menggeber gas. Kami berusaha jadi warga negara yang baik. Tetap tidak bergerak melewati batas jalan karena toh lampu masih merah. Ketika angka sudah sampai di sepuluh, raungan gas motor-motor lain semakin kencang diserta dengan satu dua motor yang membunyikan klakson. Dan ketika sudah sampai hitungan kelima, motor-motor dibelakan kami semakin menjadi-jadi, mereka meraung-raungkan gas dan semakin banyak yang membunyikan klakson. Dan motor-motor yang didepan terus merengsak maju, padahal lampu belum juga hijau. Karena semakin banyak yang mengklakson dibelakang kami, yaa.. nampaknya sih mereka kesal karena kita 'gak bergerak-gerak juga. Tapi.. lama kelamaan kita kalah jumlah, ketika angka sampai diangka tiga kita 'terpaksa' ikut maju meski lampu belum berubah menjadi hijau.

Hufft...
Kejadian tadi akhirnya menjadi diskusi menarik antara saya dan istri. Mungkin seperti demikian analogi orang-orang yang katanya terpaksa curang atau korupsi. Misalnya dalam kasus seleksi Calon PNS. Banyak orang yang tadinya idealis tidak mau menyogok tapi karena memang 'budaya'nya sudah begitu ya jadi terpaksa deh ikut menyogok. Karena kalo tidak ikutan yaa gak jadi-jadi PNS deh.

Kasus lain saya alami sendiri. Waktu itu saya masih aktif menjadi guru. Ya tidak jauhlah, saya akan bercerita tentang hal yang sudah saya singgung tadi, tentang Ujian Nasional. Ketika UN pertama kali digelar sekolah kami yang swasta masih menumpang dengan salah satu sekolah negeri terdekat. Ketika di tahun kedua UN digelar dengan syarat kelulusan yang makin tinggi seluruh staf pengajar seperti ketakutan. Terlebih lagi ketika Try Out hasil para siswa tidak sesuai target. Akhirnya sekolah kami (seperti dengan kebanyakan sekolah lain) melakukan strategi (baca: agak curang) untuk membantu para murid. Begitupun tahun-tahun berikutnya.
Nah, pada tahun keempat (kalo tidak salah), Kepala Sekolah dari SMP Negeri yang kami tumpangi mengambil keputusan UN kali ini harus 'Murni'. Dia mengambil langkah ini karena takut dengan resiko jika ketahuan, sedangkan ini merupakan tahun terakhir beliau alias mau pensiun. Dan hasilnya pun sangat mengejutkan, hampir 20% siswa SMP Negeri tersebut tidak lulus dan SMP kami kebalikannya, hanya 20% yang lulus.
Saat rapat evaluasi para Kepala Sekolah di Dinas Pendidikan Kota, Kepala SMP Negeri kami ditegur habis-habisan karena nilai kelulusannya sangat rendah (meski jujur). Hmmhh... padahal kami yakin betul Sekolah lain masih melakukan kecurangan, karena ada sekolah swasta yang kualitasnya jauh dibawa SMP Negeri itu justru lulus 100%.

Jujur tapi malah hancur. Yaa, kami harus berjuang keras mengembalikan nama baik sekolah kami yang hancur.

Begitulah sebagian potret bangsa ini. Jalan Raya bisa menjadi refleksinya.

Saya memperhatikan bangsa yang maju, tingkah laku di jalan raya nya pun cukup teratur. Ketika saya sedang dalam perjalanan dari Arizona ke Las Vegas kita menempuh jalur gurun, ketika kita menemukan perepatan lampu merah, saya kaget ketika teman saya tetap memberhentikan mobil meski keadaan jalan saat itu sangat sepi, tidak ada kendaraan yang melintas.
Tiga bulan saya berada di Amerika, saya ingat, nampaknya saya jarang sekali mendengar bunyi klakson mobil. Pun ketika ada kendaraan di depan kami berjalan sangat lambat padahal tidak ada yang menghalangi, teman saya tetap sabar menunggu sambil menunggu peluang untuk bisa mendahului mobil tersebut. Nampaknya membunyikan klakson adalah cara terakhir.

Ketika saya mau menyeberang jalan, di salah satu pusat pertokoan di Phoenix, Arizona. Saya melihat mobil sudah berhenti untuk mempersilahkan kami menyeberang, padahal mobil itu seharusnya masih sempat terus jalan sampai kami sampai di sisi jalan untuk menyeberang.

Banyak lagi fenomena jalan raya yang bisa kita sandingkan dengan kasus karakter pada bangsa kita. 

Bersambung... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR