Kerinduan berteriak di sebalik tenda..

Orang bilang, Tiga bulan pengantin baru itu lagi mesra-mesranya. Okelah, tapi kami berdua berencana membuat setiap waktu adalah pengantin baru. Pacaran terus.


Minggu 24 Mei 2009, tepat 2 bulan 10 hari Pernikahan kita. Menjadi sebuah baris baris cerita baru dari kehidupan kami berdua. Hari itu saya harus terbang ke Arizona, USA. Mengikuti sebuah Pelatihan kegiatan Alam Bebas yang diselenggarakan oleh Organisasi Kepanduan Amerika Serikat (Boy Scouts of America).


Saya sudah sering berhadapan dengan situasi kompleks. Saya dilatih di dunia yang lumayan keras. Dunia yang saya geluti juga kaya dengan dinamika. Setidaknya kompilasi itu semua membuat saya bisa lebih tenang dari kebanyakan orang. Namun, entah mengapa, saya tidak pernah bisa kuat melihatnya menitikkan air mata.


Setelah pamit dengan kedua orang tua, ibu mertua, adik-adik dan saudara sepupuku yang mengantar juga beberapa orang sahabat. Saya menghampirinya, tidak kuat menatapnya lama, karena saya pun akan 'meledak' dibuatnya. Darah bening mengalir pelan di kedua pipinya, dia mencium tangan dan akupun mengecup lembut kedua pipinya. Lagi-lagi tanpa bisa kuat entapnya lama.


Diruang tunggu, aku tak kuasa menahan air mataku. Meski berusaha sekuat tenaga untuk menahan karena ada seorang calon Mahasiswa Indonesia dari Aceh yang akan kuliah di Texas duduk disebelahku. Ketika dia permisi untuk ke Toilet. Dan pipiku semakin berlinang.


Di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, aku menyadari bahwa memang aku amat sangat mencintainya.


Sebelum CAMP dimulai, saya masih tinggal di rumah salah seorang Prgoram Director. Dirumahnya, saya tinggal disebuah kamar lengkap dengan sebuah PC dan koneksi internet. Sehingga meski Jetlag parah melanda, ketika aku bisa Online dan Chat dengan istriku, akupun lupa waktu.


Tiba di CAMP 3 hari sebelum masa training resmi. Katanya, supaya aku bisa terbiasa dengan Altitude dan humidity, atau Ketinggian dan Kelembapan disini. Yah, Camp berada di ketinggian 7000 ft diatas permukaan laut dan sangat kering. Kita tidak akan pernah tahu kita haus, sampai benar benar kita dehidrasi. Jadi dimana-mana terpampang peringatan. DRINK WATER !!.


Pertama kali yang saya tanyakan dengan Camp Director adalah kapan bisa mendapatkan Koneksi Internet. Dan karena mereka merencanakan menggunakan Jaringan Satelit, maka ada beberapa hal yang harus diselesaikan sampai instalasi semua tuntas. Singkatnya, aku baru bisa mendapatkan koneksi 10 hari lagi. Lemas.


Tapi saya sudah mengantisipasi hal ini. Saya membeli sebuah Cell Phone murah seharga 19 dolar. Lumayan,Cell Phone ini bisa digunakan untuk YM dan Cek Email meski cukup mahal pulsa untuk tiap KB-nya. Untuk aktivasi Cell Phone pun saya terkena masalah lagi, karena harus registrasi dengan prosedur yang rumit dan cukup lama. Beruntung seorang teman mau membantu.


“My Love..ini no-q disini yaa..Sekali-kali nelp.dunk biar cuman 1 menit kurang..kangen niiy- kasih tau mama papa yaa no q disni.. love u very much” SMS dikirim


Sesaat... bunyi SMS diterima “Huaaa Cintaqu.. Sayangqu.. Sehat2 ja khan..Sehari gak ada kabar aja qu udah mimpi kamu.. Iya cint pasti Insya Allah qu telepon. Love u cint..”


dan hari-hariku ditemaninya dengan baris-baris kata cintanya lewat sebuah telepon genggam.


Ketika akses internet sudah dipasang di Camp. Saya dengan antusias langsung meluncur ke Headquarter. Namun, Laptop saya bermasalah. Karena Linux yang saya pakai tidak bisa support Wi-Fi. Akhirnya saya mencoba untuk mengganti ke Windows. Namun, CD yang disiapkan oleh adik saya nampaknya bermasalah juga, karena tidak terbaca baik. Berjam-jam saya habiskan ditenda berkutat dengan laptop. Akhirnya saya teringat bahwa, Laptop ini ada Paket Linuxnya juga, sehingga saya putuskan untuk mengganti OS ke Linux bawaan Laptop. Dan instalasi berjalan lancar.


Ketika saya kembali ke Headquarter, untuk meminta Password Wi-Fi dan mencoba koneksi. Saya menemukan satu masalah lagi. Ada sebuah paket yang harus diinstal supaya saya bisa mengakses Internet. Seorang teman berusaha membant mencari Paket tersebut lewat Laptopnya. Berjam-jam masih gagal. Hati saya gerimis. Saya ingin sekali bisa Chatting sampai puas dengan istri tercinta.


Setelah itu saya hanya berdoa.


Dan kekuatan doa, luar biasa. Ketika saya sedang menyalakan Laptop, tiba-tiba sinyal Wi-Fi terkoneksi meski sangat lemah. Akhirnya saya mendekat ke Headquarter dan menc\ba koneksi dan Alhamdulillah koneksi berjalan baik.


Proses untuk bisa mendapatkan akses internet tadi adalah sebuah ujian kerinduan yang sangat lucu dan unik. Hampir membuat frustasi. Karena sepertinya saya sudah melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan


Ketika saya menelpon istri melalui Skype. Saya melonjak girang. Laptop saya terintegrasi webcam sehingga dia bisa melihat saya, tapi di warnetnya tidak ada webcam jadi saya tidak bisa melihatnya. Hmm...salah tingkah juga sih dilihatin. Hehehe...


Beruntung saya mempuyai istri yang tidak gagap dengan teknologi, sehingga puluhan ribu mil jarak yang terbentang bisa sedikit terobati.


Sudah 1 bulan lebih saya berada di bawah rerimbunan Pohon Penderosa di Utara Arizona. Disebalik sebuah tenda kanvas seukuran 2x2x2 m3. Tidur disebuah Velbet dengan sleeping bag dan selimut sebagai penawar suhu 0 derajat celcius dimalam hari. Dan kerinduanku semakin membuncah..............




......... pas panik gak dapet2 kabar dari kamu cinta,

uuh, taunya paket SMS ku habis... jadi gak bisa nerima SMS deh (roaming)....

Kecup dan Pelukku untukmu selalu.... Love you.. I Miss U So Much


Dari : Suamimu

7709 Scout Camp Road.

Parks City, Arizona 86018

USA


Untuk : Istriku tercinta

Jalan Gabus 5 No.129

Perumnas 2 Kota Bekasi 17144

Indonesia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR

Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya