Polisi Ngamuk Spion Pun Remuk

Kemarin, Senin 21 Februari 2011, saya ada agenda untuk menuju ke beberapa tempat di Jakarta. Tempat Pertama di pinggiran Jakarta, perbatasan antara Jakarta Timur dan Kota Depok, kemudian pada tengah hari saya sudah harus berada di Pusat Kota Jakarta di bilangan gambir. Saya berangkat dengan mengendarai motor bebek kesayangan. 'gimana gak kesayangan, wong satu satunya,hehehe..

Sebenarnya saya sudah malas untuk menyusuri Pusat Kota Jakarta dengan mengendarai motor, karena macetnya sudah stadium 10, bahkan pejalan kakipun bisa ikutan macet di waktu parahnya. Saya lebih nyaman berkereta, meskipun harus berdiri Bekasi-Jakarta atau sebaliknya.

Cerita ini tentang, kejadian yang saya lihat ketika saya pulang dari daerah Gambir menuju Bekasi. Saya mengambil Jalur lewat Jalan Pramuka, kemudian melintasi Rawamangun terus ke arah Pondok Bambu dan lanjut menyusuri sepanjang jalan Kalimalang. Sampai dibilangan daerah Pangkalan Jati terlihat jalanan habis diguyur hujan yang cukup deras.

Sampai di pertigaan Transito jalanan sangat macet, dan terus padat merayap sampai sekitaran Pasar Sumber Arta.
Nah, ketika saya berhasil melewati Pertigaan Pasar Sumber Arta yang padat terlihat ada sebuah Angkot Mikrolet yang mungkin berhenti sembarangan karena menaikkan atau menurunkan penumpang. Saya melambatkan laju kendaraan saya karena terlihat ada Seorang Polisi berbadan besar berperawakan yang tidak seram menurut saya menghampiri Mikrolet tersebut.

Tidak jelas polisi itu 'ngedumel' apa kepada si supir, tapi yang jelas polisi itu kesal. Dan tidak lebih dari 15 detik dia 'ngomelin' si supir, tiba-tiba Polisi itupun mengamuk dan menghajar Kaca Spion kiri Mikrolet tersebut sampai hancur.
Terlihat didalam mikrolet tersebut ada beberapa penumpang yang sebagian besar jelas terlihat adalah anak-anak sekolah usia SMP, kebanyakan putri. Entah apa yang dijawab Supir itu kepada si Polisi tapi sesaat kemudian mikrolet itu langsung melaju kendaraannya.

Ya, mungkin inilah potret Bangsa kita. Kesalahan tidak 100% berada di Pak Polisi yang telah melakukan tindak anarkis, tidak sesuai dengan Prosedur Tetap (Protap) untuk melakukan penindakan terhadap kendaraan yang melanggar. Saya kok merasa yakin ya, kalo seandainya bukan Mikrolet (angkot) yang melanggar tidak akan munkin sampai demikian. Seharusnya tilang saja, seperti biasa. Hampiri si supir, sapa dengan hormat, tanyakan apakah paham dengan kesalahannya. Tilang.

Pasti semua spontan menjawab, "Angkot mah sudah gak bisa dibegitukan lagi karena terlalu seringnya melanggar, harus keras"

Tapi jika kita objektif, tetap ini tidak adil. Supir-supir angkot tersebut direkrut bukan dengan sistem yang baik, mereka mencari pekerjaan, dan keahlian mereka bisa menyupir, jadilah mereka Supir Angkot. Tidak ada Pelatihan ESQ, Customer Service, dan lain lain seperti yang dialami Supir-SUpir Perusahaan Taksi yang ternama.

Mereka lapar, akhirnya mereka berusaha mencari uang dengan cara menyupir angkot, Kadang mereka rela harus dimaki-maki polisi karena berhenti ditempat yang tidak semestinya demi bisa merebut penumpang dari supir lain. Ataupun menurunkan penumpang ditempat yang tidak semestinya pula.

Sebenarnya, supir mikrolet yang jadi korban amukan polisi itu tidak berhenti di tempat yang terlarang, tapi karena keadaan sedang macet, keadaan akan bertambah parah jika mikrolet pada berhenti untuk menaikkan penumpang.

Pak Polisi itu mungkin sudah sangat frustasi, karena lelah mengatur lalu lintas tapi para supir angkot yang juga punya andil besar membuat ramai jalan raya seakan tidak menujukkan itikad baik untuk menghargai kerja polisi justru malah menambah parah.

Kejadian tersebut membuat saya memikirkan beberapa hal,
Pertama; Kasihan Si Supir, setelah dia berjibaku untuk mendapatkan setoran dan lebihan untuk membuat dapur berasap, tiba-tiba dia harus terkena makian polisi plus mengganti kaca spion yang hancur. "Hmmm, masih lebih bagus tidak terkena bogem mentah ya pak. Itulah perjuangan hidup. Tapi ingat bapak juga salah..."

Kedua; Kasihan Pak Polisi, dia sudah lelah bekerja, tapi juga mendapatkan sumpah serapah pastinya dari supir yang dimarahinya. Seandainya Supir itu punya Pengacara atau tergabung dalam Serikat Pekerja yang punya layanan advokasi kemudian memperkarakan, pasti akan jadi kasus yang menarik. Tapi ya, kasus demikian selesai di jalan raya

Ketiga; Ingatkan saya bilang tadi, penumpang mikrolet tersebut ada anak-anak sekolah ? ya, saya yakin mereka akan sedikit trauma mengingat kejadian itu. Karena memang terlihat menyeramkan dan membuat kaget. Mungkin saja akan berefek pada citra polisi di mata mereka. Yang harusnya Polisi berusaha membangun citra mengayomi dan melayani masyarakat.

Keempat; Keluarga si supir, mungkin istrinya, anaknya, atau orangtuanya. Tak perlu dijelaskanlah.

Kelima: saya.. gara-gara ngeliatin kejadian itu saya jadi merhatiin deh, jadi telat, orang mau buru buru pulang...hehehe...



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR

Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya