BELUM WAKTUNYA JADI PELATIH
Tulisan ini viral di FB saya, saya post disini untuk arsip, postingan asli bisa dilihat di sini.
------
BELUM WAKTUNYA JADI PELATIH
Banyak teman saya yang kecewa ketika dianggap belum pantas, terlalu muda, belum dewasa, miskin pengalaman dan lain lain ketika mereka bertanya apakah mereka sudah bisa ikut KPD/KPL. Namanya anak muda ya wajar kalo kesal ketika diremehkan. Kalo ‘nrimo aja perlu dipertanyakan darah muda nya. Mereka kesal, saya sebaliknya, dulu saya senang dianggap remeh, mungkin karena sering dianggap remeh, jadi hati ini terbiasa. Jiaah…
Malah seorang teman bercerita, sebut saja namanya Dilan, ketika semua angkatan KML nya ditawari untuk ikut KPD, kakak-kakaknya malah bilang ke dia "Dilan, kamu gak usah ikut dulu ya, biar kakak-kakak senior dulu yang berangkat..."
"Kenapa" tanya dilan. "Berat" Jawab kakak tersebut "Kamu 'gak akan kuat. Biar kami saja.." – wkwkwk,…--
Saya menulis ini memang karena belakangan, banyak teman-teman saya yang segenerasi mencurahkan isi hatinya ( lain kali sekalian isi dompet, biar sama sama enak bro..) setelah Pusdiklatnas mengumumkan jadwal Kursus tahun 2018. Mungkin mereka segera merapat ke Kwarcab untuk meminta arahan. Banyak mereka yang usianya sudah masuk 28 tahun dan lebih tapi belum diberi kesempatan. Mereka curhat. Saya juga bingung kenapa banyak banget yang curhat ke saya, padahal saya gak pernah kasih solusi yang baik, saya hanya mendengarkan sambil ‘Ngopi prodaknya HNI-HPAI.
“Hai Anak Muda …!!” ucap Arya Kamandanu. Masa masa dianggap remeh adalah masa yang memang harus kita alami, itu bagian penempaan diri, nikmati saja, kalem, tidak perlu sibuk dengan penilaian orang lain, fokus pada karya pada prestasi, performa diri dan tetap berbuat yang terbaik karena kakak-kakak tersebut pasti ada alasan ketika memberikan penilaian kita pantas atau tidak. Paling jawaban saya begitu aja, standar. Hehehe.. *ada tambahannya tapi gak bisa disebut disini..
Mungkin saya beda nasib. Saya 'gak pernah ada niatan jadi Pelatih. Tapi karena di Pusdiklatnas saya beberapa kali membantu menjadi Instruktur saat Kursus untuk aktifitas outdoor, kemudian saya dimotivasi untuk menjadi Pelatih oleh kakak kakak dan kemudian…. (kisah saya gak menarik, nanti aja kalo kita kopi darat)
Tapi tentang fenomena ini.
Saya kira proses kaderisasi kita harus berjalan lebih cepat, karena perubahan zaman tidak berjalan lambat. Peserta didik kita sekarang adalah Generasi Digital atau Gen Z. Anak saya A’ (Kalo masih pake huruf penamaannya), dia hafal nama nama warna dari HP bapaknya, kita gak ngerti kapan belajarnya. Kalo diajarin Oma nya cara buka Youtube dia marah, karena dia sudah tahu caranya, bisa buka sendiri.
Untuk Pembina sebenarnya ada Berita baik. Karena sudah makin banyak Gen Y atau Millenials yang mau menjadi Pembina Pramuka meski masih sedikit yang menjadi Pelatih Pembina Pramuka, karena Pembina dan Pelatih Pembina masih didominasi Gen X bahkan Baby Boomers.
Gap usia yang sangat jauh memicu kesenjangan selera. Ini bahaya. Sedang yang lebih tua nya selalu sibuk dengan diskusi yang dibumbui kata-kata "Anak sekarang kok gitu ya, gak kaya zaman kita dulu....”. Membandingkan ketika era TV gendut perut kita rata, dengan era TV rata perut kita yang gendut ‘gak bakal ketemu. Lagian memang perintah agama “Didiklah anak-anakmu untuk siap hidup dizamannya…”
Usia hanyalah angka, yang penting jiwanya. Betul juga. Karena Baden Powell mengibaratkan para Pembina Pramuka itu harus seorang dewasa yang berjiwa muda (Boyman). Saya juga banyak kenal kakak-kakak usia hampir 60 tapi penguasaan teknologi dan isu tentang anak zaman now nya juga bagus, tapi gak sedikit yang memang sudah mengibarkan bendera putih dengan percepatan teknologi dan fenomena yang mengikutinya.
GENERASI PENGGANTI
Namun mempersiapkan generasi pengganti harus menjadi desain besar setiap kita. Secara terencana, kita harus menyiapkan kader pengganti. Biasanya disebut Kaderisasi. Nah, pengganti kan bisa saja usianya sama, atau muda sedikit atau kadang lebih tua tapi baru dapat kesempatan. Berarti bukan kaderisasi semata, harus ada Regenerasi terencana. Mencari Pengganti untuk generasi setelah generasi kita. Mereka disiapkan dengan baik, buat hubungan menjadi asyik, beri mereka pengalaman unik dengan tantangan yang menarik.
Karena regenerasi pasti terjadi. Bagaimanapun skenarionya. Kita pasti terganti, cepat atau lambat, dengan cara terhormat atau tanpa permisi kita disikat. Kita tidak ingin digantikan dengan cara yang tidak elegan. Kita ingin maha karya kita diteruskan oleh orang-orang yang memang kita persiapkan. Sehingga ketika kita sudah duduk di teras rumah dengan cucu sambil baca koran digital, kita bisa bangga mengucapkan, tidak sia sia kalian saya persiapkan. BUKAN HANYA KADERISASI, TAPI REGENERASI.
Saya terharu juga (bukan sedih, karena saya tidak mau airmata saya terbuang sia-sia) ketika kemarin ada syarat peserta KPL minimum berusia 35 tahun. Ketika saya tanya pertimbangannya apa, jawabannya semua normatif. Ada kesimpulan bahwa dibawah 35 tahun dianggap belum dewasa, belum matang dan seterusnya. Kemudian saya sampaikan, usia saya belum genap 35 tahun kak, anak saya 2, masih kurang dewasa apa lagi..hehehe, tapi diskusinya sambil bercanda dan ngopi ya…
Jadi jika boleh, melalui tulisan in, saya ingin mengetuk hati kakak-kakak yang memang diberikan kewenangan di kwarcabnya untuk menentukan siapa-siapa yang berhak mendapat rekomendasi kursus, jika ada anak muda yang sudah memenuhi persyaratan, mohon dipermudah, dibantu, difasilitasi, kalo perlu diberikan pembekalan Pra-KPD, kasih wejangan bukan woy..jangan.
Setelah pulang KPD, sambut dia, gak perlu dikasih karangan bunga, cukup kasih senyum sudah buat dia gembira. Kemudian minta dia bercerita apa yang didapat, tidak hanya pengetahuan dan keterampilan tapi tanyakan values (nilai-nilai) apa yang dia temui, yang membuat dirinya terinspirasi, kasih nasehat lagi, tepuk pundaknya sambil berkata, sekarang lanjutkan masa pengembangan, nanti kamu berhak didampingi oleh Kakak Milea.
Nah mungkin disini saringannya, Naratama. Jika selama 6 bulan ternyata dia tidak sesuai dengan standar yang diharapkan, misalnya disuruh fasilitasi pelatihan malah cari gebetan, saat melatih selalu marah-marah padahal tidak sedang PMS, dikasih kesempatan sesi tapi full nyanyi mentang-mentang lulusan inul vista, intinya capaian di standar naratama tidak terpenuhi, maka jangan berikan Lisensi Melatihnya. Tapi pastikan selama 6 bulan dia didampingi, dibina, difasilitasi, bukan dicueki atau disusahi.
Bung Karno pernah bilang “Beri aku seribu orang tua maka akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh anak muda maka akan ku guncang dunia”. Kita semua tau ini kan perumpamaan aja, biar ada 10.000 orang tua mengangkat semeru juga gak bakal kecabut tuh gunung, biar ada 100 anak muda dunia juga belum tentu terguncang kalo anak muda nya alay, lebay dan kebanyakan MSG. Malah kemarin ya.. saat gempa bumi berguncang, anak-anak muda itu kabur paling cepat dari lantai 2 dengan wajah pucat. Dan pas dibawah langsung update status "Ya Allah Gempa..".
Namun Bung Karno ingin beri isyarat, jika kaum muda dan kaum tua bisa bersinergi dengan baik maka akan tercipta tim yang sangat kuat. Perpaduan antara kematangan pengalaman dan keberanian dalam mengambil risiko, gabungan antara kearifan dan inovasi yang jauh kedepan, kompilasi kehati-hatian berbuat dan kecepatan bertindak.
Singkatnya, kita perlu lebih banyak Pelatih Pembina Pramuka yang berusia muda.
Untuk teman-teman yang belum diberi kesempatan oleh kakak-kakaknya. Sabar, Ini ujian. Tetap berbuat baik, tetap berkarya dan tetap memandu. Kita bisa tetap fokus menjadi Pembina tanpa dibebani tugas tambahan sebagai Pelatih Pembina.
Untuk yang sudah mendapat kesempatan, buktikan dengan prestasi dan tetap rendah hati. Sampai jumpa di Pusdiklatnas ‘Candradimuka’.
Mohammad Laiyin Nento | Pelatih Pembina Pramuka Kwarcab Kota Bekasi
---
Kemudian terdengar sayup sayup suara dari belakang
“Kak kalo sudah diizinkan, tapi duit gak punya gimana ??..”
“Et dah si Dilan, … usaha napa, jualan seblak kek, malu sama si Milea dia udah jadi Pelatih Pendamping noh…”
ps :
Jika ada kesamaan nama tokoh dan kejadian semua hanyalah kebetulan belaka.

Pelatih Favorit di kwarcab Kota Bekasi... sehat selalu Ka layen...
BalasHapus