Pelatih! Bersiaplah dengan kemungkinan terburuk. (Pengalaman KMD Singapura)

Awal Tahun 2012. Dapat rezeki pengalaman melatih KMD para guru Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Guru-guru muda yang hebat dan bersemangat untuk menanamkan rasa cinta tanah air, membentuk karakter baik dan melatihkan keterampilan kepada Peserta Didik Gudep KBRI Singapura.

Kenapa rezeki?

Karena Pelatih yang direncanakan diutus saat itu sedang tidak bisa, sedang yang lebih senior dan ada waktu senggang paspornya habis masa berlaku 😁

Tentang ke Singapuranya mungkin biasa saja, karena ketika saat itu ditelepon, saya baru 5 hari tiba di Indonesia setelah 5 hari Backpacking beserta Istri ke Kuala Lumpur dan Singapura.

Tapi mendapat penugasan langka begini tetap sebuah kehormatan. Sssttt.... 2012 kualifikasi saya masih KPD tapi Kelebihan PD. Semoga Kapus saat itu khilaf mengutus saya. Terima Kasih ya kak atas kepercayaannya. 

Akhirnya Pelatih hanya berhasil berangkat 2 orang. Yang 2 orang lagi paspornya tak kunjung selesai. Pelatih hanya 2 peserta 22. Masih aman, rasio 1 : 11.

Kondisi extra-ordinary membuat kami berdua harus bersiasat supaya sesi tetap segar dan tidak membosankan. Lah gimana enggak? Seharian mereka hanya melihat wajah kita berdua saja. Sesi Indoor kita tugas bergantian, yang satu sesi yang satu asistensi, ya jadi asrot, siapin media, backup apa aja.. terus gantian lagi.

Tiga hari pertama sesi dimulai siang setelah jam sekolah selesai dan selesai pukul 24.00.

Pola ini mereka yang minta, 'gak apa2 mulai telat tapi tetap saja selesaikan sesuai tuntutan jumlah Jam Pelajaran, Semangat betul kan..? Mereka Semangat, Kita Ngantuk Berat..
Ya iyalah, pagi sampai siang kita City Tour terus 😁

Seru saat sesi berkemah, meski dibantu beberapa lulusan KML yang sudah jadi Local Staff. Saat sesi penjelajahan, saya jaga Pos Start kemudian Pelatih yang satu lagi sudah standby di Pos 1, kemudian saya berlari berputar Bumi Perkemahan standby di Pos 2 dengan kostum yang berbeda dan ganti nama panggilan, terus begitu sampai Pos 5. Untungnya Buper Singapura tidak terlalu luas, hehehe..

Pengalaman berharga, Kursus Mahir Dasar hanya dengan 2 orang Pelatih. Alhamdulillah, Pelatih Senior yang saya dampingi Kelas Berat dan hebat jadi saya ketularan semangat.

Oke, ini tulisan iseng aja, gak usah dibaca gak apa2...Gak usah dikomentari juga..

(Diatas adalah postingan di FB saya, dibawah berikut ini tambahannya) 

------

Sekarang mari sejenak kita belajar dari pengalaman.

Pelajaran dari pengalaman. Kata orang "Pengalaman adalah Guru Terbaik", tapi Guru terbaik percuma jika tidak kita dengarkan dan tidak kita perhatikan serta tidak kita ambil nilai-nilai yang diajarkan. Pengalaman banyak percuma, jika tidak mengambil pelajaran dari tiap episodenya.

Sesampai di Sekolah Indonesia Singapura, kami berdua dihadapkan pada dua kondisi yang tidak biasa. Pertama, informasi bahwa 2 pelatih lain dari Pusdiklatnas kemungkinan kecil untuk bisa berangkat (akhirnya betul tidak bisa berangkat) dan Kedua, desain pelatihan akan sangat berbeda karena para guru akan tetap melakukan kewajibannya mengajar dulu seperti yang saya ceritakan sebelumnya. 

Kita berdua fokus mencari solusi, bukan berlama-lama mengeluhkan permasalahan. 

Pertama untuk membuat energi kita lebih efisien, kita menggabungkan beberapa topik  (waktu itu bilangnya modul) di kurikulum kedalam 1 judul besar. Saat itu belum ada istilah segmental ala sisdiklat sekarang dan belum muncul istilah tematik ala K13, tapi kita sudah memberanikan diri berimprovisasi melakukan itu. Yang terpenting kita pastikan tiap tujuan sesi dapat tercapai meskipun digabungkan. Dan Alhamdulillah lancar.

Kedua, kita improvisasi desain. Para Guru, Lokal Staf serta ada diplomat yang ikut bersedia mengikuti kursus sampai larut malam karena sesi baru dimulai siang hari untuk memastikan semua ter-deliver. Tapi ya gak terasa, peserta ya happy terus saja. Saya ingin memastikan bahwa mereka juga mengerti dunia kepramukaan adalah dunia membahagiakan untuk anak-anak, maka para calon pembina harus mengeri cara berbahagia.. ckckck beraat. 

Pembina harus berlatih bahagia dan bahagia berlatih. Dalam pembelajaran orang dewasa ini lebih mudah jika sumber belajar adalah di mereka, di peserta itu sendiri (student-centered). Pelatih atau Fasilitator tidak perlu menjadi dewa yang merasa maha tahu semua hal dan seperti ingin menumpahkan semua isi kepalanya kepada peserta. 

Pelatih dengan obsesi seperti ini saya sebut Penuang Gelas Kosong. Karena mindset mereka seperti ingin menuang isi ke gelas yang kosong. Padahal orang dewasa adalah gelas dengan isi. Pelatih hanya perlu menambahkan sedikit rasa, mungkin sedikit pewarna, diaduk dan akhirnya gelas tersebut berisi air dengan citarasa yang kita mau. Jika dengan kondisi seperti tadi Pelatih dengan mental penuang gelas kosong pasti akan kelelahan. Energinya akan habis bahkan sebelum hari ketiga berakhir. Ini bukan tebak-tebakan, saya sudah sering melihatnya, hehehe...

Kita harus siap dengan semua kemungkinan terburuk dalam sebuah pelatihan. Itu formula standar semua Pramuka, itu motonya; 'Be Prepared!'. Jika muncul situasi dan kondisi pelatihan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, Pelatih Pembina Pramuka harus tetap tenang. Fokus memecahkan masalahnya bukan membicarakan masalahnya. Seperti pesan BP

Seorang Pramuka tidak pernah dibuat terkejut, ia mengerti apa yang harus dilakukan ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan

Komentar

  1. Balasan
    1. Terima Kasih Kak, Semoga bermanfaat. Terima Kasih koreksi penulisannya

      Hapus
  2. Kereeeennn... sukses selalu buat kak Latin...

    BalasHapus
  3. Pelatih kudu berlatih bahagia dan bahagia berlatih, ini bagus utk dipegang, thanks a lot sudah berbagi dan menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun Mbak Luwes, wis mampir, moco lan komen

      Hapus
  4. mantaaap tulisannya kak....menginspirasi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih Kak, Alhamdulillah di apresiasi oleh orang hebat kota bekasi, hehehe...

      Hapus
  5. Sangad Menginspirasi kak layen...tetap semangattt

    BalasHapus
  6. Pelatih yang handal .......siapa lagi klu bukan kak Layen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaaap Mami Gati, kita sama sama belajar, hehehe

      Hapus
  7. Terimakasih kak Layen... Untuk menyadarkan bahwa pelatih bukan sekedar menuang di gelas kosong tapi memberi warna... Sangat menginspirasi.... Sehat & Sukses ya Kak....

    BalasHapus
  8. Berbagi itu indah...terus menginspirasi kak...😉👌

    BalasHapus
  9. Berbagi itu indah...
    Terus menginspirasi kak... ����

    BalasHapus
  10. Kursus mahir dengan dua pelatih ?
    Wow....
    Jadi teringat jaman dkc dulu, bikin dianpinru 80 anak diurus berdua. Hehehehe.
    Tentu tidak dapat dibandingkan dengan kmd nya kak layen ini... tapi kurang lebih nuansanya sama..
    Bahagia bergiat dan bergiat bahagia, menjaga ini yang berat...

    Mantap kak layen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lebih berat pastinya, 1 orang urus 40 anak, hehehe.....

      Hapus
  11. Azaming... Wow.. menginspirasi banget ka...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR

Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya