JANGAN JADI PEMBINA, BERAT !
Suatu waktu di WA Story ada seorang teman kerja (perempuan) berjualan krim penghalus wajah yang lagi hits, lupa apa namanya, saya 'gak minat beli krim pemutih soalnya.
Dalam sebuah kesempatan saya kasih advice, sebaiknya kamu cari prodak lain untuk dijual, kamu gak cocok jualan krim wajah itu.
Dia kaget, "kenapa kak..?" , saya bilang "Ya, pokoknya nasihat saya, cari prodak yang pas sesuai diri kamu, sehingga customer yakin mau beli...?
Dia nanya lagi "Gak pas nya dimana..?"
Saya jawab dengan suara lirih,
"Karena wajahmu itu bagaikan rembulan...." .
Tapi dia langsung sadar, dia sedang bicara dengan orang yang sudah jatuh ambruk dalam bisnis (bukan jatuh bangun ya..), "pantesan kok saya gak laku seperti temen saya ya, hehehe" katanya.
Saya juga, misalnya saya jadi Instruktur Fitnes, kira kira kamu percaya gak di latih sama saya... "Enggaklah ...!!" dia jawab dengan semangat. Tujuannya biar kondisi imbang lagi... hehehe.. PUAS..?!!
Sebenarnya bukan 'gak akan laku, tapi pasti sulit laku. Hanya bisa jadi dia beli bukan karena senang dengan produknya, tapi karena kasian sama yang jualannya...
Prinsip ini juga berlaku buat yang memilih jalan jadi pendidik karakter. Sebaik baik pengajaran adalah keteladanan. Jika produk yang kita jual adalah 'Karakter Baik' maka si penjual harus sudah menunjukkan 'Karakter yang baik', supaya laku, supaya pembelinya percaya.
Ada buku parenting yang ditulis oleh teman saya Teh Ida, judulnya 'MENDIDIK KARAKTER DENGAN KARAKTER'. Sebuah buku dengan barisan cerita nyata dengan nilai nilai pendidikan karakter. Bahwa yang dilihat anak dari orang tua atau guru nya yang akan lebih membekas. Recommended buat dibaca para orangtua dan pendidik.
Maka, tantangan paling berat untuk menjadi Pembina adalah Membina dengan Keteladanan. Mengajarkan kata kata baik dengan mencontohkan berkata kata baik. Mengajarkan berpenampilan baik dengan menunjukkan penampilan yang baik. Mendidikkan disiplin yang baik dengan contoh disiplih yang baik. Menceritakan kebaikan dengan kebaikan.
Tidak akan ada sosok yang sempurna, namun di hadapan anak dan peserta didik, kita harus menjadi sosok yang 'sempurna', sosok yang menginspirasi, pribadi yang memotivasi. Jika ada hal-hal yang tidak patut diketahui atau dilihat oleh anak atau peserta didik, sebisa mungkin jangan ditampakkan dihadapan mereka. Misalnya... ah sudahlah, gak usah dicontohkan.
Betapa beratnya menjadi Pembina seperti itu.
Tapi rupanya ada yang lebih berat dari jadi Pembina seperti itu. Jadi apa...? Ya itulah. Saya sampai berat menuliskannya.. π
SELAMAT PAGI INDONESIA !!!
Ditulis 28 Maret 2018 pagi dari Perbatasan Jawa Barat & Jakarta. Bekasi tercinta.

Setuju kak, karna karakter itu penting.
BalasHapusterima kasih komentarnya
HapusSebenarnya mudah saja kalau kita punya pribadi yang baik maka otomatis kita bisa menunjukkan karakter yang baik dihadapan anak atau peserta didik. π
BalasHapusBerat, bagi yang punya kebiasaan yang tidak baik. π€
terima kasih komentarnya
Hapusmantap kak menginspirasi,sesuai dg prinsip yg di ajarkan ki hajar dewantara.
BalasHapusterima kasih komentarnya
Hapussetuju kak,
BalasHapusterima kasih komentarnya
HapusTerimakasih kakak... Artikelnya mengingat kan saya untuk menjadi pribadi yang baik agar...(tidak akan saya tulis,karena yakin kakak tau yang akan saya tulisπ )
BalasHapus