MEMBALAS SANG GURU


Rabu siang, berita duka itu datang.

Seorang kakak, seorang sahabat, seorang rekan Pelatih telah berpulang. Tidak perlu lagi ditanya karena apa, jika kami pun tidak diizinkan mengantar sampai ke pinggir liang lahat kecuali memakai APD lengkap. Setidaknya saya bersyukur masih bisa ikut menyolatkan. Meski dilakukan didepan mobil jenazah, masih dengan memakai sendal, dan langsung di lokasi pemakaman.

Kak Nesan Pembina Gudep Pangkalan SMPN 10, saya Pembina Gudep Pangkalan SMPN 7. Di tiap kegiatan tingkat cabang kami sering jumpa. Berbincang banyak hal. Beliau sering mengungkapkan apresiasinya kepada gudep yang saya bina, sebaliknya saya sering memuji gudep yang Almarhum bina. Saya kenal dekat dengan beberapa binaannya. Semua pribadinya baik, menurun dari Pembinanya.

Menjelang pamit, saya memberanikan diri berpesan sedikit dengan beberapa adik binaan Kak Nesan yang tertua yang memang saya kenal dekat. Mata mereka masih berlinang mengenang sang pembina. Sambil menahan haru, saya sampaikan ke mereka. "Jangan berhenti teman-teman, teruskan apa yang sudah dibuat Kak Nesan. Teruskan semua kebaikan yang beliau ajarkan agar menjadi amal yang tidak terputus."

Saya berharap, meskipun Kak Nesan sudah tidak ada tapi pembinaan di gudep mereka masih bisa tetap berjalan. Ilmu yang bermanfaat yang beliau pernah ajarkan agar terus dialirkan. Insya Allah itu menjadi amal yang tidak terputus.

Kamis pagi, berita duka itu datang lagi.

Kali ini bukan orang lain. Orang yang berperan besar membuat saya seperti hari ini. Pembina saya sendiri. Kak Widodo yang juga guru kami saat SMP, Beliau meninggal di masa pandemi tapi bukan karena virus, melainkan penyakit lamanya. Jantung.

Karena beliau juga seorang, saya lebih sering memanggil dengan sebutan Pak Wid. Beliau komplain jika dipanggil 'Pak' jika kegiatan kepramukaan. Ya habis bagaimana, guru juga, pembina juga, sering bingung panggilannya.

Terlepas urusan panggilan, beliau adalah guru dengan citarasa kakak. Saya merasa dekat sekali. Bisa cerita apa saja. Beliau sudah selesai sampai Kursus Pelatih Dasar tapi tidak aktif jadi pelatih karena ada sesuatu yang buat dia tidak sesuai. Orangnya keras untuk sesuatu yang menurut beliau prinsip. Saya bisa berjam-jam kalo 'ngobrol dengan beliau. Berbincang topik apa saja. Saya suka alur pemikiran beliau yang selalu melompat-lompat tak terduga, anti-mainstream. Sudut pandangnya unik, namanya juga orang seni. 

Iya, beliau adalah seorang seniman. Guru Mata Pelajaran Kesenian. Mata pelajaran yang letaknya dibarisan paling bawah jika di buku rapot. Padahal Seni memegang peran penting dalam menstimulasi kecerdasan anak-anak. Seorang bijak pernah bilang “Dengan Ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dengan agama hidup menjadi terarah”

Baru tahu dari seorang teman, rupanya beliau juga salah seorang pendiri Forum Seniman Bekasi (FSB). Sebagai seorang guru seni, saya akui  kecerdasan berpikirnya diatas rata-rata. Makin menjadi-jadi ketika beliau lanjut kuliah S2 antropologi di UI. Jika ada gagasan baru sering mengundang saya main ke ruang beliau (waktu itu beliau sudah jadi wakepsek), karena kebetulan rumah saya tidak jauh dari kampus SMP.

“Saya kirang manggil ada apaan pak wid, taunya cuman mau diskusi begini, kan bisa pake telepon”
“gak seru kalo telepon……”
dan obrolan berlanjut.


Beliau mengajar langsung hanya saat kelas 2 SMP, kelas 1 dan kelas 3 guru seninya berbeda. Saya ingat dda pelajaran seni menganyam, semua harus beli paket menganyam, saya diberi gratis oleh beliau. "Jangan cerita-cerita sama yang lain" bisiknya. Tapi sayang, saya gagal menganyam, 'gak berbakat, karya akhir menganyam saya jelek sekali tapi di raport nilai kesenian saya selalu bagus.

Beliau paham, tidak semua anak bakat di seni, yang punya bakat di senipun tidak bisa menguasai semua jenis kesenian. Saya lebih senang seni musik, khususnya instrumen, jangan suruh nyanyi, saya fals. Pernah acara perpisahan kelas belasan tahun lalu ketika saya sudah jadi bagian dari sekolah, saya pernah menggantikan beliau mengiringi paduan suara dengan keyboardnya, akhirnya saya yang menggantikan. Bukan beliau yang mengajarkan tapi beliau pernah bilang kamu kayanya bisa di musik, kamu auditori.
Tapi itu dulu ya, sekarang jari saya kebanyakan di Keyboard Laptop.. hehehe

Ketika saya mulai aktif membina di gudep SMP, Beliau sudah menjadi Wakasek yang juga berarti Wakil Ka.Mabigus. Tapi beliau selalu hadir di kegiatan seperti masih menjadi Ketua Gudep. Pertanyaan unik yang pernah beliau sampaikan “Bagaimana caranya kamu bisa buat anak-anak lebih manut sama kamu daripada sama gurunya?” Saya gak tahu jawabannya waktu itu. Sekarang saya mengerti, tapi saya belum sempat jelaskan beliau sudah terlanjur pergi.

Sudah beberapa tahun kami tidak jumpa dan berbincang lama seperti dulu. Sejak beliau diangkat menjadi Kepala SMP dan kesibukan saya makin meninggi sulit atur waktu bertemu. Ketika waktu belakangan beliau mulai install WA dan eksis di buat daily vlog di WA sortynya mulailah kami bisa saling monitor dan menyapa. Chating terakhir, beliau mengundang saya untuk main ke SMP 6 Kota Bekasi, tempat baru beliau bertugas sebagai Kepala Sekolah setelah dipindah dari sekolah sebelumnya. Saya iyakan tapi belum janjikan waktunya. Terakhir saya komentar WA Story beliau ketika beliau mendapat tugas dari Kemdikbudristek untuk pendampingan Kepala Sekolah di Wamena, Papua.

Masih terlalu banyak cerita kaya makna, tapi biarlah saya simpan menjadi kenangan. 

Kini kakak pembina sudah pergi, sang guru telah berpulang, saya langsung teringat pesan saya kepada adik-adik binaan Kak Nesan. Pesan yang belum genap 24 jam akhirnya harus berbalik kepada saya sendiri. Bahwa saya harus terus disini, di Gerakan Pendidikan ini, meneruskan semua Ilmu bermanfaat yang pernah beliau ajarkan. Karena mungkin hanya itu cara terbaik untuk membalas kebaikan seorang Guru. Amalkan dan sebarkan semua Ilmu bermanfaat yang pernah didapat.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍوَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Selamat Jalan Kakak Pembinaku, Selamat Jalan Guruku. Saya merasa sangat kehilangan. Hanya doa yang dapat saya panjatkan. Bahkan mengantarkan ke pemakaman pun harus terhalang penyekatan

Ya Allah Ampunkan segala dosa beliau, terimalah semua amalnya. Lapangkan alam kuburnya dan masukkan beliau kedalam Syurga-Mu.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR

Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya