MENTAL FEODAL

Sayang sungguh sayang. Feodalisme masih menyusup senyap, ditengah rektorika egalitarian. Jika masih jelata jangan berharap suara didengar. Kadang pekerjaanmu ditanyakan, semata-mata untuk menakar setinggi apa penghormatan.

Ini cerita manusia modern yang masih larut di nostalgia negeri para raja. Jangan khawatir, ini bukan tentang anda, ini ‘munko’ saja. Ya, menyedihkan jika strata berbanding terbalik dengan adab. Arogansi gelar menjebak perasaan selalu benar. Harap bersabar yang masih dianggap bau kencur, karena bisa dicap tidak sopan berargumentasi dengan yang berumur. ‘Laper hormat, baper kumat’.

Padahal Era sudah terdisrupsi, ada generasi baru yang belum terpapar kultur kompeni, ada digitalisasi. Beda pendapat bukan berarti tidak hormat. Beda gagasan bukan tidak sopan. Karena sumber pengetahuan berserakan, pemantik inspirasi ada disana-sini.

Kejutan zaman sudah bermunculan. Ada pedagang mie ayam yang bisa membuat pesawat aero-modeling untuk membantu mengusir hama sawah. Ada anak belum lulus SMP berhasil membobol situs NASA, ketika ditanya motif, ‘ngetes saja’ katanya. Haerul, montir dari Pinrang membuat pesawat berbekal pengetahuan dari internet dan YouTube, terinspirasi dari Habibie katanya, presiden RI ke-3.

Konon banyak perusahaan mulai menakar kompetensi bukan lembaran ijazah sekolah tinggi. “Boleh lihat karyanya?” itu yang ditanya. Wajar, karena mereka mulai mendisrupsi diri. Maka, berubah bukan pilihan. Ia adalah kemestian. Anekdot para ilmuwan; Diskusi tentang mendarat di bulan sudah ketinggalan, sekarang kami memikirkan membuat bulan buatan.

Kultur harus berganti. Jika sedang membicarakan gagasan, semua berhak didengarkan. Diskusi lintas generasi harus dengan pemikiran terbuka. Perbincangan lintas strata harus dilandasi kebesaran jiwa. Dialog lintas pangkat dan jabatan duniawi harus dengan kerendahan hati. Obrolan lintas kelas sosial, jangan dibumbui gaya kolonial.

Kultur ini bukan hal baru di negara maju. Kunci utama adalah kemampuan mendengarkan. Your voice matter.

Karena inovasi, ide-ide besar atau gagasan baru bisa hadir dari siapa saja. Kita tidak tahu, siapa tahu ia datang dari tukang tahu?

--

Renungan ini untuk saya, ketika berbincang dengan penjual Tahu Gejrot di Cirebon. Terima Kasih nasihat tidak langsungnya kang.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

.:: LayAr - kreatif ::.

TERAMPIL MENDENGAR

Refleksi Karakter Bangsa Kita di Jalan Raya